oleh

Niko Frans, Ajaran Sosial Gereja Perlu Diwujudkan Dalam Setiap Keputusan Politik

-Religi-4 views
Kupang – InternusaMedia.com, Candaan politik mewarnai perbincangan awak media dan Nikolaus Frans, caleg DPRD Provinsi NTT nomor urut 2 Partai PDIP, Daerah Pemilihan Kota Kupang.
Berpenampilan rapih, bersahaja namun lugas dalam bertutur  Niko Frans (biasa disapa) memngawali perbincangan. Tak lama lagi, pemilihan legislatif tahun 2019 akan berlangsung. Dan seperti biasa, wajah parlemen di Sasando akan berubah, sebagian diisi oleh wajah-wajah baru. Ya, wajah-wajah baru baik para politisi muda maupun para politisi senior yang sebelumnya anggota DPRD kabupaten/kota ke provinsi. Seperti halnya bagaimana kehadiran mereka 5 tahun sebelumnya, maka bisa dibayangkan bagaimana kira-kira wajah dan kiprah mereka dalam debut tahun 2019 yang akan datang.


Kehadiran politisi pendatang baru di Gedung Sasando tinggal sesaat lagi, sementara harapan dan keinginan masyarakat tentu boleh saja disematkan pada mereka sejak dini. Tetapi yang perlu diingat adalah ketika kita menentukan pilihan maka saran saya pilih partainya lihat orangnya atau sebaliknya pilih orangnya lihat partainya”, pesan Niko Frans (Caleg DPRD NTT Dapil I Kota Kupang dari Partai PDIP)

Lebih lanjut Niko Frans menjelaskan walaupun seorang caleg itu baik, punya integritas dan hati dari calon legislatif itu benar-benar untuk melayani masyarakat namun dalam pemilu partainya tidak lolos maka harapan masyarakat terhadap calon legislatif menjadi sia-sia. Sebaliknya, bisa saja Partainya baik dan kemungkinan besar lolos tetapi orangnya (caleg) tidak berintegritas dan sesungguhnya yang paling penting adalah tidak lagi menjadikan masyarakat sebagai subjek yang bersalah ketika salah memilih orang dalam pemilu nanti.

“Seharusnya jauh sebelum menjadi calon Legeslatif yang sudah pasti menjadi salah satu  pilihan masyarakat nantinya, tentunya sudah paham betul apa yang menjadi harapan dan keinginan masyarakat saat ini”, ungkap Anggota DPRD Kota Kupang 3 Periode dari Fraksi PDIP.

Terlepas dari berbagai seragam partai yang berpeluang lolos pemilu 2019, Niko Frans berharap agar Anggota dewan harus mampu memiliki jiwa merakyat dan bersikap rendah hati. Anggota Dewan yang memang ada untuk masyarakat dan menjadi pelayan masyarakatlah yang sekiranya pantas menjadi anggota dewan pilihan rakyat.

Pilihan menjadi seorang politisi menurut Niko Frans adalah mengikuti jejak Tuhan Yesus. Ia mengatakan Yesus Kristus juga hidup dalam politik pada zaman-Nya maka saya juga pakai jalan politik. Politik itu menurut keyakinan saya merupakan jalan yang paling baik untuk mengabdi. Karena disitu menyangkut banyak sekali kepentingan, terutama hajat hidup orang banyak itu justru ada pada keputusan-keputusan politik.

Itulah sebabnya sejak masih di bangku kuliah saya sudah menjadi anggota DPRD. Memang ini pilihan hidup saya, secara sadar saya mau menjadi politisi. Karena itulah saat kuliah pun saya memilih jurusan Fisipol untuk mempersiapkan diri menjadi seorang politisi. Tahun 1996 saya terjun ke dunia politik dan memutuskan bergabung dengan PDI Pro Mega yang saat ini dikenal dengan PDIP. Disnilah saya terus belajar mejadi seorang politisi yang handal, politisi yang tanggap akan kebutuhan masyarakat banyak dan politisi yang konsisten berjuang untuk masyarakat kota kasih. Dan itu sudah saya buktikan![artikel number=5 tag=”daerah, internasional, ekonomi-bisnis, hukum-kriminal, kesehatan, nasional, olahraga, opini, pendidikan, politik, religi, sepakbola, vidio” ]

Melalui PDIP sebagai kendaraan politiknya, selama 15 tahun Niko Frans turut terlibat dalam setiap keputusan politik yang memihak kepentingan masyarakat. Niko Frans mengungkapkan alasan memilih PDIP sebagai kendaraan politik. Ideologi yang dimiliki PDIP-lah yang membuat saya memilih PDIP sebagai kendaraan politik dan tak berkeinginan ke lain partai. Ideologitan PDIP berdasarkan ajaran Bung Karno dan itu yang sedang dipraktekkan oleh Bapak Jokowi (Presiden RI saat ini). Ajaran-ajaran Bung Karno itulah yang sedang dikonkretkan oleh Presiden. Ya kan Pa Jokowi sendiri adalah Kader PDIP. Bagaimana mewujudkannyatakan keadilan sosial bagi seluruh masyarakan tanpa memandang suku, agama, ras dan golongan.

Hal ini juga telah merasuki naluri saya sebagai seorang politisi yang melatari perjuangan dan ini tidak gampang”, kata Niko yang tidak pernah terlintas untuk pindah ke lain partai.

Politik itu ibarat “Narkoba” 

Kepada awak media, Niko Frans menjelaskan tentang kecanduannya terhadap dunia politik. Bagi Niko, politik itu ibarat “narkoba” sekali kita terjun ke dunia politik rasanya sulit untuk keluar. Selalu saja muncul obsesi-obsesi baru yang mau kita capai berkaitan dengan perkembangan kebutuhan aspirasi masyarakat.

Aspirasi masyarakat ini terus-menerus dan tidak pernah berhenti, akhirnya kita sebagai politisi tertantang juga untuk mewujudkannya. Dari satu periode ke periode lain ada saja tuntutan kebutuhan yang baru.

“Saya di Kota Kupang 3 periode menjadi anggota DPRD dari Fraksi Partai PDI Perjuangan. Hal utama yang membuat saya candu terhadap politik yakni semua kepentingan masyarakat banyak tergantung pada keputusan-keputusan politik”, ungkap Niko Frans, lulusan seminari Hokeng angkatan tahun 1982.

Lanjut Niko Frans, Sebagai politisi banyak sekali tantangan. Seorang politisi pasti berhadapan dengan tiga persoalan; fakta, fiksi dan fitnah. Tantangan tersebut baik datang dari luar maupun dari dalam internal partai. karena itu menjadi seorang politisi harus siap lahir-bathin agar tidak stress, bingung, lalu mati.

Menurutnya, Tantangan terberat itu datang dari dalam. Seperti saat ini sebagai caleg DPRD Provinsi Dapil 1 (satu) Kota Kupang. Disaat saya lagi berjuang untuk mendapatkan tempat di hati pemilih (masyarakat Kota Kupang), tetapi banyak orang juga lagi berjuang untuk memotong saya dari dalam yakni teman sendiri. Bisa dengan fitnah, bisa juga dengan cara-cara lain. Pengalaman saya saat sebagai calon wakil walikota, tiba-tiba wajah saya tampak hitam legam seperti alergi dan herannya hanya di wajah saja, dan setelah itu sembuh dengan sendirinya. Memang ini tidak masuk akal “saya istilahkan ini fiksi tapi nyata”.

Hal yang mendasari perjuangan di tengah arus derasnya tantangan dalam berpolitik tentunya ada. Dan sebagai orang katolik saya punya keinginan kuat untuk mengkonkretkan Ajaran Sosial Gereja.

Menurut hemat saya, sebaik apapun Ajaran Sosial Gereja kalau tidak terumuskan dalam kebijakan publik percuma saja, tidak ada guna. Ajaran Sosial Gereja bisa terumuskan dalam kebijakan publik manakala kita hadir sebagai politisi disitu. Sehingga kita turut serta dalam merumuskan kebijakan tersebut. Itulah yang selalu memotivasi saya bahwa sebagai orang katolik mesti berguna bagi orang lain.

Lebih lanjut Niko Frans menjelaskan bahwa Ajaran Sosial Gereja berkaitan erat dengan kehidupan keseharian masyarakat kita khususnya masyakat paling kecil. Nah, untuk mengakomodir kepentingan masyarakat paling kecil ini tidak bisa tidak, harus ada keputusan politik. Keputusan pilitik itu ada di DPRD dan Pemerintah. Maka itulah yang membuat kita terus terobsesi untuk ada di situ. Sehingga setiap kebijakan keputusan politik mestinya berpihak ke masyarakat. Dan inilah yang sering saya diskusikan dengan Bapak Uskup.

“Niko Frans menyadari bahwa antara Obesesi dan kenyataan terdapat betapa beratnya tantangan bahkan nyawa bisa menjadi taruhan. Namun baginya, menjadi politisi berarti harus siap mati berulang-ulang kali.

“Saya tidak pernah kapok, itulah politik-ibarat “narkoba” sekali kita masuk sulit untuk keluar”, tegas Niko Frans

Tahun 2019 merupakan periode terakhir bagi Niko Frans untuk terjun ke dunia politik. Ada banyak obsesi terkait kepentingan masyarakat mestinya diakomodir, khususnya oleh pemerintah daerah.

Memang keputusan politik sangat menentukan tetapi pelaksanaan atas hasil keputusan juga hal yang utama. Turut serta dalam keputusan politik selama 3 periode (15 tahun) merupakan pilihan yang tepat namun masih ada cita-cita yang belum terwujud. Menjadi anggota DPRD sudah saya jalani, hanya saja menjadi walikota/Bupati  dan Gubernur itu belum pernah. Pengalaman inilah yang membuat saya akhirnya bergabung dengan Jonas Salehan sebagai calon wakil walikota tetapi kalah.

“Impian terbesar saya adalah mengakhiri karier politik dengan mengabdi masyarakat sebagai kepala daerah. Dan baru saja ada informasi bahwa kemungkinan kota madya Maumere mau dibentuk dan saya berharap bisa menjadi walikota Maumere yang pertama, tentunya melalui perjuangan. Perjuangan diberlandaskan Ajaran Sosial Gereja takkan berhenti ….itulah candu politik. Saya pasti berjuang”, ungkap Pria kelahiran Sikka, 06 Mei 1962 dalam candaan politiknya.(Maria)

 

Komentar

Terkini