oleh

GURU ADALAH NABI YANG BERPIKIR, MENGAJAR DAN MENGHIBUR

-Opini-6 views

(Menjejaki Pemikiran Marsel Robot Tentang Gerakkan Literasi Guru)

Gusty Rikarno, S.Fil
(Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT)

Menelusuri jalan sepi literasi di NTT itu begini. Ada seorang (beberapa orang) sedang berjalan menelusuri lorong pikirannya sendiri. Dingin, gelap dan sempit. Ia mengendus mencari jawaban untuk sekian banyak pertanyaan eksistensial dalam dirinya. Lorong dingin dan gelap itu semakin terasa saat ia rajin “bertengkar” dengan kenyataan hidup yang dialaminya. Tidak heran, orang lebih memilih aman. Tidak perlu mempertanyakan hidup yang sudah ada. Yah … (untuk kebanyakn orang), hidup itu adalah yang ada saat ini. Nikmati dan syukuri saja apa yang ada. Atau dengan format lain, hidup itu adalah bentuk keterlemparan dari keabadian. Tidak perlu dipertayakan lagi. Mempertanyakan hidup dengan seluruh peristiwa yang terjadi di dalamnya adalah pekejaan sia-sia kalau tidak mau dibilang bodoh. Menulis adalah alasan untuk sebuah “pertengkaran” dengan diri sendiri. Semakin ia berpikir dan melibatkan perasaan sepenuhnya atas banyak peristiwa hidup, maka ia bakal sepi sendiri dan siap dilabeli sebagai filsuf (pemikir) atau orang gila. Tidak ada cara atau pilihan yang lebih tepat selain menelusuri jalan sepi yang dingin ini. Menulis adalah cara menembus (menyingkap) jalan sepi ini. Manfaat dan sensasinya dapat jika kita berani sendiri di jalan sepi ini. Jika kemudian kamu menemukan lebih dari sepuluh orang dalam perjalanan menerobos jalan sepi ini, maka untuk konteks NTT itu sudah luar biasa.

Kali ini saya ingin mengajak kita sekalian menjejaki pemikiran Marsel Robot tentang bagaimana ia “bertengkar” dengan diri dan memutuskan menerobos jalan sepi literasi.

Marsel Robot lahir di Taga, Koit-Manggarai Timur, 1 Juni 1961. SD di Koit, SMP di Borong, SMA di St. Thomas Aquinas, Ruteng-Flores. Tahun 1982, ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Undana. Berkat kesetiaanya menelusuri jalan sepi literasi maka di tahun 1998, Marsel melanjutkan Magisternya di Universitas Padjadjaran Bandung di bidang Ilmu Komunikasi dengan predikat Cum Laude. Tahun 2008 di kampus yang sama ia berhasil mempertahankan disertasi doktoralnya yang berjudul : kontruksi Harmoni Antara Salib dan Bulan Sabit : Sebuah Etnografi Budaya Komunikasi Masyarakat Beda Agama di Ntaram (Manggarai) Flores.[artikel number=5 tag=”daerah, internasional, ekonomi-bisnis, hukum-kriminal, kesehatan, nasional, olahraga, opini, pendidikan, politik, religi, sepakbola, vidio” ]

Sebagai dosen ia (Marsel Robot) tahu sepi dan dinginnya lorong ini. Ia merasakan sendiri perihnya hati dan pikiran melihat para mahasiswa yang adalah calon guru itu berusaha menghindar dari lorong sepi literasi ini. Apa yang bakal terjadi dengan generasi NTT ini di belasan dan puluhan tahun dari sekarang. Apa yag bisa digugu dan ditiru oleh siswa/i yang didiknya nanti. Ini dosa siapa? Dalam satu ia seperti Pilatus. Ingin ikut serta mencuci tangan dan “mencari kambing hitam”.
“Sesungguhnya, saya sedang berprofesi ganda. Sebagai dosen sekaligus pemulung. Sebagai dosen tugas saya sangat formantif. Meneliti dan mengajar. Itu saja. Tetapi sebagai pemulung tugas saya adalah memilih dan memilsah sampah. Para mahasiswa yang sudah menamatkan pendidkan dari jenjang SD, SMP dan SMA yang juga adalah calon guru tetapi tidak memiliki ketekunanan membaca dan menulis. Mereka itulah sampah dalam bentuk yang nyata. Seperti pohon, ia nampak layu dan loyo karena hati dan pikirannya kosong. Ia (mahasiswa) ikut dalam konsep pendahulu “tua” bahwa hidup adalah anugerah dan dinikmati apa adanya. Apa yang terjadi? Ia bisa menulis tetapi tidak biasa menulis. Jauh lebih parah dari seorang yang buta huruf. Saya malu menjaani profesi ganda sebagai dosen dan pemulung ini. Tetapi itulah kondisi kita”, tandas Marsel dalam tatapan mata “berkaca”.

Komentar

Terkini