oleh

JANGAN BIARKAN GUBERNUR LELAH SENDIRI

-Opini-17 views

Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil

(Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT)

Kupang, internusamedia.com., Pukul 09.34, sebuah nomor baru nonggol dilayar WhatsApp. Isinya singkat. Sebuah kelompok/organisasi mahasiswa di Kota Kupang, memintaku untuk memberikan materi terkait upaya meningkatkan budaya literasi di kalangan mahasiswa. Tempat kegiatan yang cukup jauh di kawasan Alak-Kota Kupang dan jadwal pemaparan materi tepat di pukul 13.00, membuatku terperanjat. Tidak sampai di situ. Dinformasikan peserta hanya tujuh orang. Konsistensiku sungguh diuji. Memang, janjiku begitu. Mendermakan banyak waktu untuk orang muda (mahasiswa) agar bersama menempuh jalan sepi literasi di NTT.

Kelelahan terbesar adalah mencari lokasi tempat kegiatan dalam kondisi suhu udara Kota Kupang yang menyengat. Saya baru pertama kali menginjkakkan kaki di kawasan ini. Kepada bung Aleks (staf Cakrawala), saya berbisik.”Ikuti saja bunyi sebuah adagium. Jangan malu bertanya, jika tidak mau sesat di jalan. Untuk lima orang pertama, kami bertanya. Semua menggeleng. Artinya, mereka tidak tahu tempat kegiatan itu. Dua jam berlalu. Pada diri orang keenam berprofesi ojek, baru kami mendapat petunjuk. Tempat kegiatan itu akhirnya ditemukan. Aula Gereja Katolik St. Gregorius Agung Oeleta-Alak.

Di musim begini, suhu udara kota karang, siap mengulek setiap hati yang mau mengabdi. Saya teringat seorang Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), Gubernur NTT. Ia yang pernah membakar semangatku di beberapa bulan silam. “Jangan ragukan kecintaan dan kesetiaanku untuk mencurahkan pikiran, tenaga dan perasaan untuk bangsa khususnya NTT. Saya datang, untuk kita bersama bangkit menuju sejahtera”. Pada detik ini, di “suhu panas” mental ASN dan generasi muda NTT, adakah ia (VBL) masih setia? Jujur, saya takut ia bakal lelah sendiri. Dari tujuh peserta kegiatan itu, hampir semua bercita-cita sama. Ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Untuk diketahui, data per-31 Desember 2017, jumlah PNS (enaknya disebut ASN) Pemerintah Provinsi NTT sebanyak 15.239 orang dengan jabatan struktural 1.199 orang. Jumlah pegawai dan jabatan sebanyak ini menyebakan rasio belanja ASN mencapai lebih dari 60% APBD. Jumlah ini belum ditambah dengan tenaga honorer yang dikontrak setiap tahun dengan biaya APBD. Keadaan ini berbanding terbalik dengan hasil Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi pemerintah (SAKIP) Pemerintah Provinsi NTT oleh Kementrian PAN dan RB yang memperoleh nilai 63,62 atau predikat B. Artinya, penganggaran yang besar itu tidak sebanding dengan kinerja yang ditunjukkan. Dengan kata lain, banyak ASN tidak bekerja maksimal. (Bdk. Darius Beda Daton, “Menuju Birokrasi NTT yang bersih dan Melayani” dalam buku NTT Bangkit, Menuju Sejahtera, 2018 : 225-226).[artikel number=5 tag=”daerah, internasional, ekonomi-bisnis, hukum-kriminal, kesehatan, nasional, olahraga, opini, pendidikan, politik, religi, sepakbola, vidio” ]

Komentar

Terkini