oleh

Di Batam Warga Lembata Resah Terhadap Pembangunan Awololong

-Nasional-19 views

Batam – Kepri (Internusamesia.com) –
Warga asal Kabupaten Lembata di Batam yang tergabung dalam paguyuban KEKAL BATAM (Kerukunan Keluarga Lembata Batam) beberapa minggu terakhir resah mendengar berita tentang situasi-kondisi sosial dan politik di daerah asal mereka di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Keresahan itu kini memuncak ketika tersiar kabar akan ada demonstrasi dan “gerakan massa besar-besaran” di Lembata dalam beberapa hari yang akan datang berkaitan dengan penolakan terhadap pembangunan obyek wisata di Awololong, Lewoleba, Kabupaten Lembata. Demo itu disinyalir sebagai demo tandingan untuk menangkis isu mangkraknya proyek pembangunan Awulolong yang dikatakan oleh Dinas Pariwisata Lembata karena masalah “kahar” (Demontrasi masyarakat yang mengakibatkan proyek itu tidak bisa dilanjutkan karena persoalan keamanan).

Awololong adalah sebuah tempat atau pulau kecil di depan Lewoleba, Ibukota Kabupaten Lembata yang oleh penduduk sering disebut dengan nama Pulau Siput. Tempat itu sangat asli, indah dan memesona. Pulau itu akan hilang atau tidak kelihatan jika air laut pasang, tetapi akan muncul kembali berupa hamparan pasir putih halus ketika air laut menjadi surut. Bersamaan dengan itu muncul pulah di pulau itu siput-siput yang tidak pernah habis dikonsumsi oleh masyarakat di kota Lewoleba dan penduduk dari desa-desa pesisir lainnya.

Memuncaknya keresahan ini karena sebagian warga Lembata di Batam yang merasa sangat akrab dengan pulau siput tersebut tidak menerima kebijakan Pemerintah Kabupaten Lembata, dalam hal ini Bupati Y E Sunur yang diduga tanpa melalui proses pendekatan dan sosialisasi kepada masyarakat, telah memaksakan kehendak untuk membangun di atas pulau tersebut berbagai fasilitas untuk wisata, antara lain: Jembatan Titian, Restoran Apung, Kolam Apung, Pusat Kuliner, dan pelbagai fasilitas lainnya. Selain itu warga Lembata di Batam juga mendengar informasi bahwa kuat dugaan Pemkab Lembata telah melompati prosedur-prosedur politik maupun hukum yang mestinya ditempuh untuk dapat membangun suatu proyek dalam memenuhi program pembangunan di daerahnya.

Hendrina Linong, warga asal Lewoleba, Kecamatan Nubatukan, Lembata, tidak rela dan menolak Awololong dibangun untuk tujuan seperti yang direncanakan Bupati. Karena itu menurut Hendrina, baik di Awololong maupun sekitarnya tidak boleh dirusak, dikotori dengan pembanguan apapun. “Awololong itu memiliki nilai sejarah nenek moyang zaman dulu, dan tempat orang kecil mencari lauk pauk, tempat wisata rakyat kecil, yang alamiah, jadi jangan diobrak-abrik. Biar natural saja, jangan dirusaklah dan dikotori dengan pembangungan apapun. Awalolong juga sumber kehidupan masyarakat kecil”, ujar Hendrina Linong yang mengajar di salah satu SD Katolik Kota Batam.

Komentar

Terkini